Kamis, 18 Mei 2017

Jalan untuk manusia atau kendaraan?



Salah satu tempat yang sering dijadikan lahan tempat parkir.
Lokasi : Jl. Boulevard Panakukang Makassar

Dalam postingan kali ini, saya akan membahas beberapa hal menyangkut etika dalam ber-arsitektur yang sering saya temui di Makassar.

Di kota-kota besar seperti Makassar, dijalan-jalan umum yang terdapat bangunan komersil disisinya, kerap kali saya menemukan sebuah ruang tempat parkir dimana tempat parkir tersebut tidak tertata dengan baik. Akibatnya seringkali ruang yang tidak tertata ini sering menimbulkan kemacetan di jam-jam yang padat lalu lintas.

Satu titik yang bisa menjadi contoh tempat parkir liar di Makassar yaitu di Jl. Boulevard (samping Mall Panakukang). Di jalan bahu ini bisa kita temui maraknya terjadi parkir liar yang mengganggu arus lalu lintas di jalan tersebut apalagi dipagi dan sore hari, dimana biasanya orang-orang berangkat dan pulang dari aktifitasnya sehari-hari.

Selain mengganggu arus lalu lintas, tempat semacam ini juga bisa dibilang sangat mengganggu pemandangan karna tempatnya biasa berada didepan ruko pedagang.

Kenapa parkir liar bisa terjadi?



Masalah ini tidak terlepas dari beberapa faktor penting seperti;

1. Masyarakat.


Melihat pola kebiasaan masyarakat di kota Makassar, yang masih sering memarkir kendaraan di tempat parkir liar, rasa-rasanya masyarakat juga turut andil dalam mendukung tempat parkir semacam ini. Apalagi di Mall Panakukang sendiri sebenarnya sudah mewadahi tempat parkir yang lebih ter-tata didalam, tapi masyarakat lebih memilih memarkir kendaraan di bahu jalan. 

Alasannya kenapa?

Dari beberapa teman yang sering saya tanya, kenapa lebih memilih memarkir kendaraannya di bahu jalan dibanding dengan didalam Mall Panakukang, alasannya adalah :

Lebih murah, tidak perlu antri lagi dan pelayanannya cepat (Ini jawaban dari jomblo-jomblo yang tidak punya modal bayar uang parkir).

Beberapa alasan ini mungkin bisa dijadikan pemicu bagi instansi yang mewadahi tempat parkir agar dapat membuat pelanggannya lebih nyaman.

Dan yang terpenting masyarakat bisa mempunya tempat parkir yang lebih tertata.

2. Tukang parkir.


Bicara soal pelaku (tukang parkir) sebenarnya saya agak ragu-ragu menyalahkan mereka alasannya karna saya juga takut kalo mereka membaca tulisan ini, hehe. Apalagi saya juga sadar, pergerakan tukang parkir ini sangat terstruktur dan berkelompok. Satu diganggu, semuanya membantu. 

Saran saya buat pelaku yang sering membuat ruang dibahu jalan sebagai tempat parkir. Sadarlah pak, sebelum satpoll pp bertindak. 


        3. Pemerintah kota.

Peranan pemerintah kota juga disini sangat vital dalam mewadahi setiap kegiatan-kegiatan publik yang ada di kota Makassar.

Salah satu faktor kenapa parkir liar bisa bertumpuk di Makassar karna masyarakat atau pemilik bangunan tidak membuka ruang atau tidak memberikan setengah ruang dari tanahnya sebagai lahan tempat parkir. Nah, inilah alasan, kenapa tempat parkir semacam ini bisa tumbuh dibahu jalan.

Di Jl. Boulevard saya jarang menemukan ruang bagi pejalan kaki (trotoar). 

Maka pertanyaan yang timbul setelahnya adalah jalanan ini dikhususkan untuk pengendara (motor/ mobil) atau pejalan kaki?

Konsep penataan jalannya, menurut saya kurang jelas. Jika memang diperuntukkan untuk kendaraan, seharusnya ruang bagi tempat parkir kendaraan lebih diutamakan di bangunan-bangunan komersil sepanjang Jl. Boulevard. 

Dan jika memang penataan ruang dijalan ini dikhususkan bagi pejalan kaki, ruang bagi pejalan kakinya harus diatur sesuai dengan standar bagi pejalan kaki.


Dibawah ini saya akan membagikan video, dari apa yang saya bahas diatas.




Disalah satu momen divideo diatas, saya sempat diteriaki oleh tukang parkir, hehe.
Dalam bahasa Makassar dia bilang "Eh, apa shoting-shoting njo?" yang artinya "Apa itu rekam-rekam?"

Yaa, akhir kata, mari sama-sama menjadi pelaku untuk terciptanya kota yang nyaman dan lebih me-manusia-kan. :)

10 komentar:

  1. Eh baru tahu kalo lo anak makasar. Ternyata blogger masakar banyak juga ya. Muehehee. Kayaknya kalo parkiran gitu emang semuanya aja sih itu. Orangnya gamau ribet, kang parkirnya jagain soalnya dapet duit. Muahaha. \(w)/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oiya? saya baru tau 3 orang blogger dari makassar di' sebagiannya blum kenal, haha.
      Dapet duit, tapi blum tentu bertanggung jawab.

      Hapus
  2. Bolehlah kau jadikan selingan ketika libur, jadi mamang tukang parkir..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahh. Sudah tukang parkir, mamang lagi.

      Hapus
  3. Anjir nama jalannya keren banget, Boulevard. Haha.

    Mantep nih Rey, postingan kamu kali ini sungguh informatif dan sangat kritis. Mudah-mudahan bisa cepet teratasi ya polemiknya. Hidup Makassar! Oiya, di Bandung juga punya masalah yang sama nih, soal parkir. Terutama di ruas-ruas deket mal, ya gak jauh beda sama kasus di atas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terinsipirasi dari nama2 jalan di eropa son, haha.
      Kayaknya perlu ditertibkan nih.

      Hapus
  4. 4. Karena ada kendaraan
    Kalo gda kendaraan yg parkir g jadi dong parkir liarnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, seharusnya saya minta saran sama Niki dulu ya sebelum nulis artikel ini.

      Hapus

Sampaikanlah komentar walau satu halaman.
Sapatau bisa tukeran tukaran hati, biar kamu tau bagaimana rasanya dibaca lalu ditinggal :)